Sejarah Paroki Palasari

Sejarah Selayang Pandang Paroki Hati Kudus Yesus Palasari


Pada Tanggal 15 September 1940 tepatnya pada Hari Senin Wage, Wuku Wariga, Sasih ketiga, Pastor Simon Buis, SVD bersama 17 KK berangkat dari Tuka, 1 KK dari Beringkit dan 6 KK dari Gumbrih, jumlah rombongan seluruhnya 24 orang/KK ditambah satu orang Pemimpin Rohani menuju daerah transmgrasi di Bali Barat (73 tahun). Setelah mengadakan survey di beberapa tempat, akhirnya tempat yang dituju adalah kawasan hutan “Pangkung Sente” (Palasari Lama) yang letaknya 1 Km disebelah selatan  Palasari sekarang, tepatnya diseberang Sungai Sangiang Gede. Antara Tahun 1942 – 1945, Palasari mengalami masa suram, karena ditinggal oleh gembalanya Pastor Simon Buis yang ditahan di Pare-Pare –Makasar – Sulawesi Selatan.

Pada Bulan Mei 1946, Umat datang semakin banyak ke Palasari sehingga tanah seluas 200 Ha terasa sempit, dan untuk mengantisipasi hal tersebut maka diupayakan memohon tanah tambahan wilayah baru seluas 200 hektar, akhirnya wilayah dipindahkan ketempat yang baru yaitu Palasari sekarang. Pada Tahun 1947 adanya penambahan tenaga Pastoral yaitu :

  1. Tokoh Gembala Umat : Pastor Bernardus Blanken, SVD
  2. Tokoh Pembangunan : Bruder Ign. A.M. de Vrieze, SVD dan
  3. Tokoh Kesehatan : Valentina Ibu Ayu Sabda Kusuma.

Pembangunan Gereja Palasari dimulai Tahun 1956 oleh Pastor Paroki saat itu Rm. Bernardus Blanken, SVD dengan Br. Ignatius, SVD bersama pertukangan dan team pembangunan saat itu dan selesai tahun 1958. Gereja ini di Tahbiskan Tanggal 13 Desember 1958, oleh Yang Mulia Mgr Albers OCam. kondisi saat itu masih sangat sederhana, belum dipasang plafon dan juga belum difinishing. Bangunan Gereja Palasari menggunakan perpaduan Arsitektur Bali dan Eropah dengan ciri kas Gotik. Bangunan gereja ini dibangun diatas bukit dengan ketinggian menara 33 meter diatas tanah, dan lantai gereja 72 meter diatas permukaan laut. Renovasi I bangunan gereja ini diadakan tahun 1976, Oleh Pastor Paroki saat itu Rm. Heribert Balhorn, SVD dengan Br. Ignatius, SVD bersama Pertukangan dan team pembangunan saat itu, karena kena musibah gempa bumi, direnovasi pada bagian depannya saja. Renovasi II dilaksanakan pada tahun 1992 – 1994, oleh Pastor Paroki saat itu Romo Yosep Wora, SVD dengan Br. Ignatius, SVD bersama pertukangan dan Panitia Pembangunan. Pada renovasi II ini seluruh konstruksi kayunya diganti a.l. : Kap, Meru, Kusen, Daun pintu, jendela dan memasang plapon, juga dibangun candi bentar dan penyengker keliling gereja, termasuk renovasi tangga loteng depan dan pertamanan sekitarnya. Gereja ini diberkati kembali pada tanggal 15 September 1994 oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD.

Tahun 1983 umat Palasari membangun sebuah Monumen Pastor Simon Buis, SVD. mengambil lokasi dipuncak bukit sebelah timur Gereja Palasari, karena pada masa beliau bertugas di Palasari menghendaki agar Rumah Pastoran dibangun dipuncak bukit tersebut. Ditempat Monumen Pastor Simon Buis, SVD tersebut juga juga dibangun Goa Maria Palasari yang lasimnya disebut PALINGGIH IDA KANIAKA MARIA Palasari, yang sekarang dikembangkan menjadi Tempat Ziarah Rohani. Goa Maria ini dipugar tahun 2006 meliputi Pelataran Goa Maria dan Jalan Salib Pendek. Pada Tanggal 15 September 2008 diresmikan oleh Yang Mulia Mgr. Leopoldo Girelli (Duta Fatikan untuk Indonesia) Kemudian Jalan Salib Panjang yang diresmikan Tanggal 15 September 2009 oleh Yang Mulia Mgr. Dr. Silvester San, Pr (Uskup Denpasar) Dan Kori Agung Palinggih yang diresmikan tanggal 15 September 2012 oleh Mgr. Dr. Silvester San, Pr. Di wilayah Tempat Ziarah ini pula terdapat Taman Makam Para Rohaniwan yang sampai saat ini telah dimakamkan 4 (empat) Orang Uskup, 8 (delapan) orang Imam dan 2 (dua) orang Bruder. Umat Paroki Palasari sampai saat ini berjumlah 388 KK (sekitar 1.350 orang) yang tinggal di wilayah Desa Adat Pemaksan Palasari, terdiri dari 3 Banjar Adat yang wilayahnya disekitar bangunan Gereja Palasari, dan mata pencahariannya kebanyakan sebagai petani & Tukang bangunan.

Pastor yang pernah berkarya di Paroki Palasari sampai saat ini sudah berjumlah 22 orang, periode ke-17, dan sampai saat ini jumlah Pastor Putra kelahiran asal Palasari berjumlah 10 orang, Suster asal Palasari sebanyak 25 Orang, Bruder asal Palasari 1 orang, Frater asal Palasari berjumlah 5 orang dan beberapa orang masih di Seminari Menengah. Asal Nama Palasari diambil dari 3 versi yaitu :

  1. Menurut Pastor Simon Buis, SVD : Berasal dari kata PALA adalah karena banyaknya pohon PALA yang tumbuh subur dan menjulang tinggi mengelilingi wilayah mereka bernaung tersebut, bahkan ada yang tingginya melebihi dari puncak menara Gereja sekarang. Dan kata SARI adalah mereka sendiri sebagai Inti – Sarinya
  1. Menurut G. I Gst. Kompiang Djiwa : Berasal dari kata PALAS (pisah), karena 3 hari setelah tiba ditempat tujuan, 6 KK dari 24 KK berpisah meninggalkan tempat tujuan, yang akhirnya tinggal 18 KK. Dan SARI adalah mereka yang masih setia sebagai perintis Paroki Palasari.
  2. Menurut I Gusti Nyoman Panji Tisna (Raja Buleleng saat itu) : Beliau mengupas dari segi tinjauan filosofis dari kata PALA (PAHALA) adalah buah berkhasiat sebagai obat yang memberi kehidupan, Dan SARI sebagai simbul dari daya atau  kekuatan dari dalam. Sehingga Palasari adalah Desa yang akan memberikan kehidupan juga bagi desa-desa disekitar.

Akhirnya semua menyepakati nama yang satu dan sama yaitu PALASARI. 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *